Sabtu, 10 Mei 2014

Demokrasi : Golput OK?? Golput No!!!

Pemilu tahap pertama sudah usai, tinggal menunggu pemilu berikutnya yaitu milih bapak/ ibu presiden. Tapi kalu melihat pemilu yang sebelumnya menurut saya kayaknya lebih banyak yang golputnya,,?
Misalnya didareah saya,,,di antara sekian banyak makhluk hidup yang tinggal di daerah saya, ada yang memilih untuk tidak memilih alias golput.  Banyak sekali kendalanya ada yang sibuk kerjaan ada juga yang memang sengaja tidak menggunakan hak~nya,,dengan alasan kebanyakan karena kecewa terhadap pemerintahan yang sebelummnya! Dan lebih waaaawwww nya lagi, dikasih undangan aja ada yang gak mau
nerima. Padahal kalau diterima dulu kan lebih sopan. Mau pilih atau enggak itu sudah hak asasi masing-masing. Tapi apapun pendapatnya kita hargai. Namanya aja demokrasi, kalo ada yang berpendapat tidak memilih ya itu ma silakan.
Demokrasi yang paling
demokratis biasanya didasari rasa ingin tahu dengan hal tersebut, misalnya kenapa kok sekarang ini banyak sekali yang tidak meggunakan hak pilihnya alias golput ? Akhirnya coba iseng~iseng cari-cari informasi.
Menurut saya Realita ini adalah FAKTA. Kalaupun ada kesamaan tokoh, sifat, dan waktu hanya kebetulan
semata.....hehehe
Dan ini ~ ini yang bikin orang jadi galau buat nyoblossssss,,,,,
Parpol No. 1
Mereka merasa tidak puas dengan
kinerja pemerintah yang selama ini
semakin tidak becus .
Ini alasan yang paling dominan di antara sekian pemuja golput. Baik yang tidak berpendidikan maupun yang bergelar Prof. Tingkah laku pemerintah/ sang penguasa yang mereka anggap hanya
menguntungkan pribadi atau
golongan dan semakin
menelantarkan rakyat lemah. Kasihan sama para caleg yang terkena virus ini,,,heheh
Betul gak???
Kalau mereka ditanya tentang kinerja pemerintahan,, jawabannya juga logis. Seolah~olah pemerintah tetap terus
memegang kekuasaan dengan
kebijakan-kebijakan yang maknyus!! Padahal sebenarnya gak jelas untuk masa depan rakyat.
Jika kinerja/ kebijakanya ga bener!!! Kebiasaan mereka adalah membela diri dengan
menganggap remeh rakyat???”
“Kalau gak bisa memakmurkan
rakyat, ya turun saja gak usah
mencalonkan diri! Namanya
pemimpin itu ya ngeladeni rakyat,
bukan menginjak rakyat tapi berkedok 'Untuk kesejahteraan rakyat’!” , dsb
[dan saya bingung].
Memang kompleks betul gan dilema di atas. Kasian sama para
pendukung si calon. Coba pikirkan,
ikon yang mereka idolakan
ditelanjangin di depan umum. Tapi
kalo dipikir-pikir juga, kok bisa ya
ada pendukung yang ngebelain idola mereka sampai gila~gilaan??? Sampai diluar batas kewajaran lagi. Padahal upah yang diterima tidak sebanding dengan integritas yang dia korbankan....
Untuk menjadi wakil rakyat aja kan biayanya sangat mahal. Kira~kira darimana usaha untuk mengembalikan modal nya itu??? Hhheeemmm,,,( harus lihat ke KPK ni ,,hehe )
Parpol no.2
Galau sama calonnya,,,bakal calon maupun calon pasti kebnyakan tidak populer / terkenal prestasi dan pengabdianya dimata rakyat?memang kita gak akan bakal bisa kenal
watak seorang caleg
Kenapa saya bilang gitu gan? Jelas, setiap manusia punya sisi gelapnya masing masing, walaupun dia punya istri atau anak, mereka ga bakal tau
sebagian sisi gelap mereka, apalagi sisi gelapnya itu gila harta , rakus akan kekuasaan dan lain-lain gan ,,,bakal hancur negara kita ini. Jadi golputlah pilihannya,,,,
Parpol No.3
Uang mengubah orang,,,, ada
pepatah "uang bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin" ,
bahkan jika anda mengenal baik
seseorang, saat dia menang dan
duduk di kursi wakil rakyat dijamin
99% orang tersebut akan berubah,,,,( FAKTA)
Janji Caleg itu Busuk, kecuali....
Biar ane ulangi sekali lagi gan , janji caleg itu BUSUK! , mereka
cuma bakal ngasi harapan harapan palsu buat rakyat miskin, mereka cuma manis saat kampanye ja, buang-buang duit mereka buat "SUMBANGAN" yang hanya buat sesaat aja, setelah mereka duduk manis gan, selesai sudah kita bakal di-PHP-in sama janji mereka,,,,,hahahah kacian!!
Parpol No. 4
Sebagian mereka menilai, politik itu KOTOR.
Katanya biasanya paham ini dianut oleh para pengusaha.
Mengapa bisa kotor? Coba
perhatikan kasus berikut ini:
- mereka merogoh kocek yang
buesar untuk menyuap rakyat agar memilihnya. Membuat kampanye
dengan membagi-bagikan sesuatu dan sebagainya. Ini kan tindakan gak wajar dan tidak terpuji? ( harus hati~hati klo ada partai yang seperti ini,,,takutnya ada setan kapitalis yang menyokongnya )
- mereka berpikir serius untuk
mengayomi elemen-elemen yang
selama ini mendukung si calon.
Tentunya butuh sumber penghasilan yang besar.
- mereka mengorbankan segalanya
untuk mempertahankan eksistensi
diri/ kelompoknya serta menghalangi bahkan mengucilkan
siapa saja yang dinilai bersimpangan dengan kepentingan
mereka. Dll.
Bener ga? Ada tindakan-tindakan
tidak terpuji agar pemilihan si calon sukses.
Tapi memang gak juga sepenuhnya kalau politik itu kotor. "Politik itu seperti pisau" yang bisa digunakan untuk hal-hal yang baik dan bisa juga untuk hal-hal yang buruk.
Tergantung yang menggunakan.
Makanya kalau yang menggunakan orang-orang baik, pasti hasilnya baik. Dan kalau yang menggunakan orang-orang kurang baik! Yaaaaa jadinya kayak di
negara kita ini.
Katanya buat jadi pemimpin itu berat!!  Tanggung jawabnya dunia dan akhirat ?
Jadi pemimpin itu sama saja menjadi babu-nya rakyat. Jadi
harus mengayomi rakyat. Bukan
mencari kesempatan dalam
kesempitan.
Klo dipikir~pikir sebenarnya ada motif apa ya seseorang mencalonkan diri menjadi para wakil rakyat?  Kok mau~maunya jadi wakil??
Parpol No. 5
Di antara sekian ormas Islam, ada
yang menolak demokrasi. Hal itu
karena bertentangan dengan
keyakinan mereka. Demokrasi
menurut mereka hanya akan
membawa bencana bagi sebuah
negara. Entah itu bencana fisik,
ataupun bencana psikis. Banyak
para ilmuwan yang juga mengkritik
sistem demokrasi ini. Kyaknya ini betul juga.... Saat ini belum
ada negara yang makmur karena
demokrasi. Toh kalau ada yang
makmur secara fisik, pasti
menyimpan borok di dalam negara
tersebut. Coba sebutkan negara
mana sih makmur karena
demokrasi?
(Kalau ada tolong share disini tapi jangan lupa menyertakan fakta-fakta). Jangan juga karena fanatik terus menampakkan sesuatu dan
menyembunyikan sesuatu. Lagi-lagi motif duit Ditambah lagi demokrasi inidipasarkan oleh negeri Pengecut Paman Sam yang menjadi ikon musuh utama mereka. Mereka menganalisa bahwa Asu berniat menguasai seluruh negara dengan menyebarkan duta dengan sistem yang mereka tawarkan. Mereka menghiasi sesuatu yang buruk dan mencacati yang baik. Sehingga tawaran itu menjadi sangat manis untuk dijajal.
Padahal akibatnya sangat menyakitkan. Menurut mereka lho ya
Parpol No. 6
Ketemu dengan orang yang
ketika ditanya mengapa dia golput,
jawabannya, “kamu waras gak sih?
Kalau kamu pilih mereka, ntar yang
hidup enak mereka. Kamu Cuma
dikasih segitu aja mau milih
mereka. Ya kalau rutin dikasih tiap
bulan, ane bakal milih. Meskipun
dikit gak masalah yang penting
cukup untuk beli bensin” Ealaaah...
Ini juga gak salah gan. Ngapain
milih orang lain yang ujungnya hidup enak dinikmatin sama yang dipilih? Sedangkan yang memilih Cuma dapet cape atinya saja hanya ketika
pemilihan? Alasan mantab ni brooo,,,hhahahah
Parpol No. 7
Kalau yang satu ini gak bagus,,,hehe
Mau tau Apa alasannya? ,,,,taraaaaaaaaaatttttttt,,,,"Jauh gan dari rumahnya jadi malas ke sononya.""
Parpol No. 8
Dan yang ini saya banget ni,,,,heheh
Tuntutan pekerjaan yang tidak bisa
ditinggalkan dan diwakilkan. Dan si bos cenderung memintanya untuk tetap bekerja walaupun tanggal merah????
Tanggapan: ya sudah gan. Dinegara kita kan menghargai pendapat orang lain. Ya sudah kita hargai saja. Berapa kek sepuluh ribu boleh, seratus ribu juga gak papa. Kita belajar berdemokrasi.... Kalau kita mencerca mereka, berarti kita belum bisa berdemokrasi.
Apalagi kalau mencerca saya, wah jadi ga demokratis ni,,,hik,,hik!!
Kalau ga salah MUI sudah mengeluarkan fatwa haram golput. Sebenarnya ga demokratis ni,,,heheh, tapi mungkin dikeluarkannya fatwa ini untuk kebaikan bangsa ini. Ni ada wejangan dari om Hepi Andi Bastoni ( jurnalis ),
Mengapa Tidak Boleh Golput?
1. Sah tidaknya Pemilu tak
ditentukan seberapa banyaknya
jumlah golputer. Misalnya, jumlah anggota WNI yang berhak memilih 150 juta jiwa, tapi realitasnya yang memilih hanya 60 juta orang, sedangkan yang golput sebanyak 90 juta orang. Maka, PEMILU TETAP berlangsung dan SAH! Jadi, golput tidak punya kekuatan.
2. Terpilih tidaknya seorang CALEG
menjadi anggota dewan tak
terpengaruh dan TIDAK PULA
ditentukan oleh suara golput, tetapi
berdasarkan suara terbanyak dari
pemilih sah. Misalnya, jumlah
anggota DPR yang ditetapkan 500
orang. Jumlah anggota DPR itu akan tetap terpenuhi meskipun jumlah rakyat pemilih hanya 60 juta atau bahkan hanya 10 juta orang. Di sinigolput juga tidak ada efeknya.
3. Jumlah orang yang golput itu
SAMA SEKALI TIDAK DIPERHITUNGKAN keberadaannya
dalam UU Pemilu. Dengan kata lain:
jumlah suara golput sebanyak
10.000 orang itu
misalnya, dianggap tidak ada, dan
PASTI DIKALAHKAN dengan
jumlah 500 orang yang memilih.
4. Suara golputer itu, realitasnya,
tidak dapat menjadi solusi dan
tidak punyai pengaruh apapun untuk kebaikan negeri ini. Hingga kini, golput tidak ada legalitasnya yang mampu menuntut sah atau tidaknya hasil pemilu. Golput juga tidak bisamenurunkan atau mengangkat seorang presiden atau kepala daerah terpilih.
5. Golput itu umumnya bukan dari
pemikiran rasional tapi emosional.
Biasanya mereka yang golput itu
akibat rasa kecewaan, pesimis,
putus asa dan apatis terhadap
keadaan negeri ini. Bahkan, apatis
(tidak peduli) bila negara dan bangsa ini dikuasai/dijarah oleh para penjahat.
6. Dengan sistem dan peraturan UU
Pemilu yang ada, salah satu yang
diinginkan oleh para koruptor itu
adalah: semakin banyak anggota
masyarakat yang memutuskan untuk golput, agar mereka lebih mudah menjadi anggota dewan dengan 'money politic'.
7. Sikap golput ini akan makin
berbahaya jika yang golput adalah
orang-orang shalih dan baik. sebab, ketidaksertaan mereka dalam Pemilu akan menambah sedikit dukungan untuk orang baik-baik di panggung kekuasaan. Jika orang-orang baik itu semakin sedikit, maka peluang para koruptor dan penjahat akan semakin mudah melenggang
kepanggung kekuasaan. Misalnya,
jika anggota dewan itu seharusnya
500 orang, maka kalau jumlah orang baik-baik hanya 100 orang, secara otomatis orang tidak baik itu menjadi 400 orang.
8. Jika alasan golput karena sistem
yang ada sekarang tidak sesuai
dengan ajaran Islam, justru peluang untuk mengubah undang-
undang itu ada di parlemen dan
panggung kekuasaan.
Jika kita menginginkan aturan di
negeri ini bersumber dari ajaran
Islam, maka orang-orang yang pro
dengan syariat Islam harus
mengubahnya. Tempat mengubahnya itu bukan di jalanan tapi didalam gedung parlemen. Jika umat islam ingin mendirikan tempat ibadah, maka yang mengeluarkan IMB-nya itu kepala daerah.
Tuntutan 1000 orang di jalanan, bisadimentahkan oleh keputusan
hanya seorang kepala daerah. Untuk menjadi kepala daerah atau
presiden tidak bisa ditempuh dengan golput.
jadi buat apa GOlPUT gan gaada
gunanya . mending memilih yang
terbaik untuk kedepan nya
MERDEKAA,,,
Terakhir dari saya,,,
Walaupun pemerintahan ini bobrok,,, insyaAllah masih tetap ada pemerintah yang bersih. Meski perbandingannya antara yang bersih dan kotor itu lebih bnyak yang kotornya! Ya,,,, semoga kelak yang kecil nya itu menginspirasi yang lain.
Aaaammiiiiiiin!
Tetap semangat Indonesia!

0 komentar:

Posting Komentar