"Tuhan ada di mana ???"
"Kenapa kamu tanya aku di mana ? Aku tidak perlu tempat untuk membuktikan aku dimana, karena Aku-lah pencipta tempat.."
"Kenapa Tuhan tidak ada saat dunia ini diisi banyak orang2 kejam ? Psikopat, pedofilia merajalela !! Bahkan anak kecil menjadi korbannya.. Kenapa Tuhan tidak ikut campur ??"
"Jadi kamu menyalahkan Aku dalam situasi ini ?"
"Jelas !! Engkaulah Maha !! Dengan segala kehendak-Mu, maka tidak akan ada kejadian2 itu !!"
"Apakah kau mengerti apa kehendak-Ku ?"
"Ya jelas tidak.. Karena Kau Maha sedangkan aku bukan.."
"Jika begitu, kenapa kau seolah2 mengerti apa kehendak-Ku ?"
"Ya jelas tidak.. Karena Kau Maha sedangkan aku bukan.."
"Jika begitu, kenapa kau seolah2 mengerti apa kehendak-Ku ?"
Terdiam.
"Lalu kenapa Tuhan membiarkan anak2 kecil itu menjadi korban manusia tidak bermoral sampai mereka di sodomi ? Kenapa Tuhan tidak ikut campur ? Pedofil seperti itu akan menciptakan pedofil baru dari anak2 itu !!"
"Kau bicara seolah kau mengerti, tapi kau sama sekali tidak mengerti. Apakah Aku yang kau salahkan dalam menciptakan monster pedofilia itu ? Bukankah ciptaan-Ku sempurna dan tanpa dosa ? Lalu siapa yang membentuk karakter seseorang menjadi monster ? Aku-kah atau manusia ?
Lihatlah harimau. Bagimu ia adalah monster. Ia dilahirkan dalam kondisi yang tidak tahu apa2. Tetapi karakteristik orang tuanya, lingkungannya, membentuknya menjadi seekor -yang menurutmu-monster. Situasi melatih nalurinya. Sehingga ia terbentuk seperti hal-nya seekor harimau yang ganas.
Tapi, cobalah pelihara dia sejak bayi. Berikan kasih sayang dan kelembutan. Peluk ia. Ajari ia kebaikan. Bentuk ia di alam yang berbeda dari lingkungan liarnya. Maka ia akan menjadi binatang peliharaan yang setia. Nalurinya akan menurun drastis, meski sosoknya tetap menyeramkan.
Apakah tidak begitu juga dengan manusia ? Kalianlah yang menciptakan monster dari sosok tak berdosa yang kuciptakan melalui kelahiran. Kalian dengan semua sistem kalian, sistem pendidikan kalian, sistem agama kalian dan semua kerusakan yang kalian buat pada mental dan spiritual seseorang.
Dan ketika orang itu akhirnya menjadi monster, kalian menyalahkan-Ku. Begitu sempitnya sudut pandangmu.."
Terdiam.
"Lalu, bagaimana dengan korban anak2 kecil yang di sodomi itu. ? Bukankah mereka jg rusak mentalnya dan akan menjadi monster baru ?"
"Jika kerusakan itu karena ulah kalian, bertanggung-jawablah. Itu peringatan utk membenahi sistem kalian. Lihat lagi sistem pendidikan dan agama kalian. Pelihara para korban itu dengan baik. Itu sebagai pembelajaran yang bagus utk kalian, tidakkah kalian belajar dari pengalaman2 ? Atau kalian buta ?
Apakah mereka akan menjadi monster yang baru ? Ya dan tidak.
Ya, jika kalian tidak mampu memperbaiki mentalnya dengan asupan spiritual yang benar. Dan tidak, jika kalian benar dalam menerapkan sistemnya.
Apakah sudut pandang kalian tidak melihat bahwa sedikit anak yang menjadi korban, akan tumbuh menjadi orang yang akan memperbaiki sistem kalian ? Dia akan mengajari kalian, karena dia paham bagaimana sakit rasanya menjadi korban. Kalian tidak paham, karena kalian bukan korban.
Bukankah sifat dasar manusia adalah beradaptasi dengan lingkungannya ? Jangan meremehkan ke-Mahaan-Ku, karena Aku-lah yang paham akan seperti apa dan menjadi apa mereka saat besar nanti. Bagi-Ku tidak ada ruang dan waktu. Aku tahu awal yang Kuciptakan dan akhirnya..."
"Kenapa aku selalu gagal dalam menilai sudut pandangmu, Tuhan ?"
"Karena kau tidak pernah shalawat kepada utusan2-Ku di dunia ini. Itulah yang membuat akal-mu terhijab dari sudut2 pandang seperti ini...."









0 komentar:
Posting Komentar