Cilegon, 18 jan. Subuh ku terbangaunkan oleh teriakkan ayam-ayam jantan
di samping kosan ku, seolah-olah sudah menjadi alarm hidupku selama saya ngekos
disini (jombang kali, Cilegon). Seperti biasa rutinitas di susbuh mencekam
adalah ibadah sholat subuh, Ngaji selembar dua lembar, hulang-huleng sambil
dengerin musik atau bobokeun deui,,hehe. Tapi disubuh ini tumben-tumbenan ni
abis menghadapkan diri dan berkeluh kesah dengan sang maha kuasa. Dalam diri
saya ada kekuatan dan semangat buat sedikit mengeluarkan khayalan ku kedalam
sebuah tulisan, ya lumayan buat Menuhin blog saya…hahaha.
Berandai-andai dengan duniawi, bekelik dengan kehidupan pagi yang
sedang kujalani, Seolah hanya saya yang mengalaminya indahnnya saat menantikan
terbitnya sang mentari pagi. Sayang disetiap terbitnya mentari tak ada yang
menemaniku sekali pun seonggok teh, kopi atau susu panas. Seakan traagis dengan
keterasingan ku, saya mencoba mensyukurinya.
Teringat tadi malam saya sedang
duduk disebuah warung tenda kecil yang menjual minuman berenergi “BANDREK” dan
makanan ringan. Susana tampak seperti biasanya,,ada suara tawa, keheningan yang
menyelimutiku, mamang bandrek yang
meracik ramuan jitunya bak seorang bartender handal dan si bibi menjajakan
barang dagangannya. Saya bersama beberapa cemilan ringan dan segelas bandrek
yang menemani saya saat sedang jiwa ini gundah menunggu datang pagi.
Setelah meneguk sedikit cita rasa bandre tersebut, kemudian bapak kecil berwajah aneh di depan saya menghampiriku dengan senyum kebahagiannya dan bertanya, ade sudah lama disini ? Ade sehat ? Kapan pulang ke bandung ? Mendengar pertanyaan nya saya kaget. Saiapa bapak ini? Kok langsng tau saya dari bandung padahal saya belum pernah melihatnnya. Tapi saya tetep menjawab pertanyaanya. Kemudian si bapa itu melihat segelas air bandrek yang saya pesan dan bertanya itu punya ade? Ya,,saya katakan, saya beli disana. Dengan anggukan dan senyuman dari bapak tersebutpun menutup perbincangan kami dengan kalimat “ jangan terlalu dipikirin, sabar saja. Tunggu waktunya”.
Setelah meneguk sedikit cita rasa bandre tersebut, kemudian bapak kecil berwajah aneh di depan saya menghampiriku dengan senyum kebahagiannya dan bertanya, ade sudah lama disini ? Ade sehat ? Kapan pulang ke bandung ? Mendengar pertanyaan nya saya kaget. Saiapa bapak ini? Kok langsng tau saya dari bandung padahal saya belum pernah melihatnnya. Tapi saya tetep menjawab pertanyaanya. Kemudian si bapa itu melihat segelas air bandrek yang saya pesan dan bertanya itu punya ade? Ya,,saya katakan, saya beli disana. Dengan anggukan dan senyuman dari bapak tersebutpun menutup perbincangan kami dengan kalimat “ jangan terlalu dipikirin, sabar saja. Tunggu waktunya”.
Mendengar kalimat itu jadi bingung apa maksudnya dan siapa bapak mistery itu? Sambil membolak-balik Hp menunggu pesan/ tlp msuk dari kasih ku? diri saya masih merasa ada keanehan dari perbincangan tadi? huhhh,,,merasa lelah dan mulai memandang kesana-kesini, kutatap masih ada didepanku bapak tadi dengan duduk membellakangiku. Di tengah-tengah usaha saya untuk menyegarkan diri tersebut kemudian saya mendengar ijin pamit dari bapakmisterius itu kepada para penikmat badrek dan mamang yang punya warung badrek tersebut, “mau muter-muter dulu” katanya. Kulihat beliau mengangkut beberapa kantong plastik dan tas yang mengantung dipundah dan pinggangnya, yang sebenarnya tidak cukup untuk di bawa sendiri oleh beliau.
Terlalu banyak barang berharga yang dibawanya memaksa bapak tersebut untuk meletakan beberapa barang
diatas kepalanya, setelah himpitan diantara kedua tangan dengan badannya (di
bawah ketiak) sudah terpakai untuk barang yang lain. Sudah pasti kedua belah
tangannya sudah penuh terpakai. Entah apa yang dibawanya?
Kemudian sembari berdiri bapak tersebut berbisik “astafirughlah al azim.. Demi sesuap nasi…!!”
Saya terperangah dalam bisikannya itu saya mendengar teriakan rasa lelah, teriakan rasa lapar, jeritan rasa penderitaan, rasa cinta dan kasih demi keluarga, sebuah rasa kehormatan sebagai kepala keluarga. Masih dengan perasaan terharu, saya terus memperhatikan sang bapak tadi yang sedang berjalan sedikit membungkuk karena barangnya yang memebuhi tubuhnya.
Diam dan masih dengan suara bisikanya tersebut terdengar seperti teriakan di kepala saya. Bisikan yang mungkin sebenarnya untuk memotivasi dirinya sendiri, tetapi terasa begitu berarti di dalam kepala saya. Betapa tulus perjuangan untuk keluarganya. Rasa lelahnya di tepiskan dengan bisikan tersebut. Bapak tersebut masih ada di dalam penglihatan saya dan terus berjalan menjauhi saya menuju ujung lorong gelap dan kemudian berbelok. Saya masih kagum dengan semangat juang dan ketulusan dalam menjalani hidupnya walaupun sudah tak semuda dulu. sempat muncul rasa menyesal dengan pertanyaannya tadi? Mungkin dia sedang lapar, kehausan dan kedinginan dengan rasa lelahnya , setidaknya saya bisa membantunya dengan keterbatasan saya membelikannya sebuah minuman / makannan untuk mengobati senyum kebahgiannya.
Sayangnya saya hanya menatapinya dengan aneh, kemudian saya berpikir
lagi dengan kehebatannya menebak kegundahan dalam diri saya? Seolah dia tau
masalah saya! Dengan kebodohan dan rasa meyesal saya kenapa tidak saya sambut
dengan segelas air dan makanan untuk
menghargai rasa terimakasihku akan pelajaran hidup yang telah diberikannya.
entalah,,jika saya melakukan hal
tersebut, apakah saya menghargai perjuangan beliau. Lalu bagai mana dengan
orang-orang di luar sana? Yang dalam usia produktif memilih untuk mengamen di
jalanan, mengemis, di dalam usia produktifnya memilih hangout bersama teman-teman
untuk menghambur-hamburkan uang semata demi kesenangan duniawi, di dalam usia
produktifnya menggunakan narkoba, di dalam usia produktinya melakukan tindakan
kriminal, di dalam usia produktifnya duduk di dalam sebuah posisi bagus didalam
suatu perusahaan atau instansi pemerintah yang kemudian melakukan tindakan korupsi,
dan lain-lain.
Bertanya pada keadailan? Apakah hidup ini seadil itu? Ya, saya rasa itu sangat adil. Bukan, bukan karena ketimpangan tingkat sosial dan ekonominya. Tetapi kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Seletih apapun bapak tersebut berjuang mungkin hasilnya akan selalu manis untuk keluarganya, beliau dapat tertidur pulas di dalam kelelahannya yang seharian kerja dangan nyaman, dan bersemangat untuk bangun juga meneruskan kembali perjuangannya di dalam hari berikutnya. Berbeda dengan orang-orang yang saya bandingkan dengan bapak tadi, mereka hidup di dalam kesemuan, mereka menjadi duri bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka hidup untuk terus berada didalam ketakutan, ketakutan untuk tidak mendapatkan narkoba, ketakutan untuk berjuang sehingga menghalalkan segala cara, dan segala ketakutan lainnya untuk dapat hidup dengan tenang dan berusaha dengan tulus untuk dirinya dan keluarganya yang lain.
Bisikan itu… “astafirughlah al azim.. demi sesuap nasi…”” telah menginspirasi saya untuk tulus dalam perjuangan saya. Terimakasih bapak misterius yang hebat.
Bertanya pada keadailan? Apakah hidup ini seadil itu? Ya, saya rasa itu sangat adil. Bukan, bukan karena ketimpangan tingkat sosial dan ekonominya. Tetapi kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Seletih apapun bapak tersebut berjuang mungkin hasilnya akan selalu manis untuk keluarganya, beliau dapat tertidur pulas di dalam kelelahannya yang seharian kerja dangan nyaman, dan bersemangat untuk bangun juga meneruskan kembali perjuangannya di dalam hari berikutnya. Berbeda dengan orang-orang yang saya bandingkan dengan bapak tadi, mereka hidup di dalam kesemuan, mereka menjadi duri bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka hidup untuk terus berada didalam ketakutan, ketakutan untuk tidak mendapatkan narkoba, ketakutan untuk berjuang sehingga menghalalkan segala cara, dan segala ketakutan lainnya untuk dapat hidup dengan tenang dan berusaha dengan tulus untuk dirinya dan keluarganya yang lain.
Bisikan itu… “astafirughlah al azim.. demi sesuap nasi…”” telah menginspirasi saya untuk tulus dalam perjuangan saya. Terimakasih bapak misterius yang hebat.
semoga kita bertemu lagi,,,:)








0 komentar:
Posting Komentar