Sabtu, 19 Juli 2014

Mesir : Ngaca Dulu Kalau Mau Jadi Pahlawan Kesiangan!

Di tengah kecamuk perang Palestina-Israel yang sudah berjalan sekitar satu minggu, Senin 14 Juli 2014 pemerintah Mesir tiba-tiba dengan lantang meneriakkan seruan gencatan senjata. Pemerintah Mesir meminta Israel menghentikan serangan udara ke Gaza, sekaligus menyeru para pejuang Palestina supaya berhenti menghujani Israel dengan roket-roket yang menggemparkan Timur Tengah.
Hebatnya, seruan itu segera diiyakan oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, sedangkan pihak Palestina berbeda sikap. Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang berasal dari faksi Fatah dan berkedudukan di Tepi barat mengambil sikap seperti Netanyahu, tetapi Hamas menolaknya mentah- mentah sedangkan faksi Jihad Islam yang semula menyatakan masih perlu berpikir dan mempelajari inisiatif gencatansenjata tersebut akhirnya jugamengikuti langkah Hamas.
Sikap Netanyahu yang sedemikian cepat menerima seruan itu tak pelakmengundang pertanyaan, mengingat Rezim Zionis Israel selama ini dikenal sebagai pihak yang sangat antagonis dan hiperaktif dalam membantai bangsa Palestina secara brutal tanpa pandang bulu. Mengapa PM Israel sedemikian antusias menerima seruan Mesir ?
Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa resistensi Palestina belakangan ini telah dibayar mahal
dengan jatuhnya korban syuhada
yang sudah menembus jumlah 200
orang dan korban luka sekitar 1,500 orang.
Karena itu, saya kira sudah sepatutnya pejuang Palestina menolak gagasan yang isinya cenderung merendahkan dan memaksa pihak Palestina supaya tunduk kepada Israel.
pemerintah Mesir telah bertindak tidak adil ketika tidak dapat membedakan antara faksi- faksi pejuang Palestina di Jalur Gaza dan otoritas Palestina yang bermarkas di Ramallah, Tepi Barat.
Kontras dengan faksi-faksi pejuang di Jalur Gaza, otoritas Palestina cenderung tunduk pada kehendak AS dan Israel sehingga malah berbangga dengan tindakannya menghapus hak pengungsi Palestina untuk ke kampung halaman. Ramallah siang malam juga tak berhenti berpikir untuk mencegah segala bentuk intifada Palestina, meskipun dalam bentuk aksi damai, untuk melawan aksi pendudukan dan ekspansi permukiman Yahudi.
Sedangkan Mesir,  tidak sepatutnya selantang itu meneriakkan inisiatif gencatan senjata ketika rezim Kairo sama sekali tidak menyinggung pembukaan gerbang Rafah secara normal sebagaimana yang ia lakukan pada gerbang-gerbang perbatasan Mesir dengan Libya, Sudan, dan negara-negara lain, tak terkecuali Israel. Padahal, di seberang gerbang Rafah terdapat 15 juta manusia yang terkunci dari semua arah, itupun dalam kondisi banyak di antara mereka yang mengerang menahan luka.
Seruan gencatan senjata yang dikumandangkan Mesir jelas-jelas
sejalan dengan impian Netanyahu
untuk menumpas resistensi Palestina, melucuti senjata para pejuang, dan menggulung semua infrastruktur militer pejuang.
Sedangkan Israel,  sekarang sudah dalam kondisi keteteran karena tak menyangka akan mendapat gebrakan sedemikian hebat dari para pejuang Palestina. Pamornya kini berantakan setelah kota-kotanya ternyata dengan sangat mudah diterjang badai roket pejuang Palestina. Celakanya lagi, kubah besi Israel ternyata juga kian terbukti rapuh ketika Hamas membuat gebrakan baru dengan
menerbangkan pesawat-pesawat
nirawak ke berbagai wilayah Israel
dan hampir semuanya kembali ke
Gaza dengan selamat.

Sebelum MH17 , Pesawat PresidenRusia Lewati Jalur yang Sama

Sebuah fakta mengejutkan disampaikan oleh kantor berita swasta Rusia, Interfax. Interfax menyebutkan pesawat kepresidenan Rusia melewati jalur yang sama dengan Pesawat Presiden Rusia Keterangan tersebut disampaikan Interfax mengutip pernyataan dari sumber dekat pemerintah Rusia. 
Menurut sumber yang dirahasiakan tersebut banyak kesamaan dari MH17 dan pesawat Presiden Rusia.
"Saya katakan pesawat Putin dan MH17 ada di jalur yang sama , Presiden Rusia ada di jalur itu pada pukul 16. 21 waktu Moskow dan MH17 ada di situ pada 15. 44," sebut sumber tersebut, dikutip dari RT, Jumat ( 18/7 / 2014).
"Kontur kedua pesawat sangat mirip , pada jarak cukup dekat mereka telihat identik ," tambah sumber tersebut.
Belum diketahui apa motif dari sumber tersebut mengungkapkan fakta ini. Namun, setelah MH 17 jatuh Rusia dan Ukraina saling tuding mengenai siapa yang patut disalahkan.
okezone .com

Rabu, 16 Juli 2014

Deal dengan zionis - Mesir menciut, pintu rafah ditutup??


Sungguh menyedihkan mendengar berita tentang rakyat gaza. Serangan yang membabi buta dari anjing israel yang tiada hentinya dan  ditambah diamnya dunia internasional dalam melihat penderitaan rakyat gaza membuat rakyat gaza semakin menderita. 

Kebiadaban Israel menyerangPalestina seolah lagu lama yangdiputar berulang tiap waktu.Korbannya selalu rakyat sipil Palestina. Saat pejuang menyerangbalik Israel demi kehormatan darahkaum muslimin, label teroris segeramelayang ke mereka. Alih-alih ditulis pejuang, situs-situs Barat malah menyebut pejuang sebagai teroris berbahaya.
Tetapi yang sangat mengherankan dan memalukan adalah tetangga-tetangga yang berdekatan langsng dan juga salah satu negara muslim ikut-ikutan diam dan tutup mata melihat penderitaan gaza.

Sudah hampir sepekan Jalur Gaza benar-benar membara. Ratusan ton bom-bom Israel yang ditembakkan
melalui pesawat Israel melesak
meluluhlantakkan Palestina. Israel
sengaja menyasar penduduk sipil
sebagai target, selain bangunan
rumah warga Palestina. Di sisi lain, pejuang Palestina tidak tinggal diam. Beberapa faksi pejuang Palestina berjuang, meladeni serangan Israel untuk menjaga darah dan kehormatan kaum muslimin.

Meski serangan dari Palestina tak
sedahsyat Israel, tapi perlawanan
tersebut patut diacungi jempol.
Perlawanan rakyat Palestina perlu
diapresiasi karena kondisi mereka
yang minim. Puluhan tahun
terkepung oleh negara-negara antek
zionis namun masih mampu
melakukan perlawanan. Untuk
memasok senjata dan logistik saja,
Palestina harus membuat
terowongan bawah tanah. Hal itu
dilakukan karena Mesir, si Antek
Yahudi, menutup rapat-rapat pintu
perbatasan.

Enatah apa yang ada di benak para pemimpin negara-negara islam seperti Arab saudi dan Mesir?? padahal mereka merupan negara besar dan negara muslim besar yang harusnya mereka iba atau tergerak hatinya untuk membantu rakyat gaza yang semakin hari semakin menderita?? Bukan hanya sumpah serapah atau kecaman yang dibutuhkan rakyat gaza!! Saya kira mereka membutuhkan dukungan yang ril,, misalnya bantu mereka dengan militer-militer anda untuk mengusir si anjing israel!!

Yang memalukan lagi melihat mesir,,mereka menutup pintu rafah yang menjadi akses penghubung ke gaza?? Aneh kan??  Harusnya negara-negara di dunia bersatu untuk mendesak otoritas Mesir membuka pintu Rafah, penghubung menuju Kota Gaza, Palestina. Saya kira tak ada satu alasan pun yang bisa diterima untuk tetap menutup pintu Rafah, karena itu sama dengan membiarkan warga Kota Gaza tercabik-cabik oleh kebiadaban Anjing Zionis Israel.

Maka melihat kasus ini harus segera ada pertemuan seluruh Negara untuk menuntut dibukanya pintu Rafah, agar bantuan kemanusiaan bisa masuk.  Palestina tidak membutuhkan bantuan kita, tapi kitalah yang membutuhkan alasan untuk membantu Palestina. 

saya berdoa semoga Allah SWT menurunkan tentara-tentara dari para malaikat- Nya untuk menyelamatkan Palestina dari kebiadaban Zionis Israel. Karena Palestina adalah negerinya para hafiz Quran,” katanya.

Selasa, 15 Juli 2014

Sakit Cintaku saat Jerman VS Argentina!!

Dikira te final tu Walanda Vs Jerman??? heheheh (ngarep,,,)

Akhinya Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014,setelah bermain apik dan sengit melawan Argentina.
Hampir satu bulan ini, pecinta bola disuguhkan tayangan bola yang sudah ditunggu selama 4 tahun yaitu "FIFA WORLD CUP BRASIL 2014". Dan Alhamdulillahnya Piala Dunia kali ini pas barengan sama puasa Ramadhan, jadi nya bangun sahur sekaligus nonton bola...hehe

Selama satu bulan berlangsung piala dunia, saya tidak semuanya nonton. Karena terkadang kecapean akhirnya ketidur..gak ditonton bolanya!! Tapi klo TV sih nyala trus,,,cuman pas bangun ehhh!! Udah kuis,,,ampun dah!! Beda lagi kalau pas permpat final sampe final semalam ma,,,Alhamdulillah saya tidak terlewatkan!! Walaupun terkadang merem melek juga,,,hehe

Di piala dunia tahun ini sebenarnya saya jagoin Belanda,,tapi sayang akhirnya harus puas juara 3 setelah mempermalukan tuan rumah brasil. Kalau bini sih,,jagoin nya yang menang saja dan eeehhh terbukti tu jerman menang/ juara...hahaha.

Pas Nonton Final Piala Dunia semalem permainannya sangat menarik,,kedua tim saling serang dan pertahanan belakang nya juga kuat-kuat, jadinya harus ada tambahan waktu,,tapi akhirnya si akang gotze berhasil membuat messi dan kawan-kawan meneteskan air mata...gol indahnya di menit tambahan waktu mebuat jerman menjadi juara Piala dunia 2014. dah keliatan si jerman bakalan menang,,soalnya dari menit awal jerman selalu menyerang dan banyak peluang. beda dengan Argentina yang kesuliatan menyerang karena messi nya tidak ada pergerakan sama sekali alias mati gaya..hehe. jadi we,,argentina kebanyakan bertahan. Tapi seandainya sampe adu pinalti kayaknya lebih seru lagi..saolnya kipernya bagus-bagus dan pemain-pemainya bagus juga. 

Ya,,pokoke serulah klo lihat final ma,,!! jadi inget jaman-jaman SMA dulu, seneng banget kalau ngebasah masalah bola tu,,sampe-sampe saling ejek yang berujung dendam kesumat kalau sudah di chengin...hehe. maklum masih ababil,,,hahah

sedih + karunya,,,!!! di Final Piala Dunia 2014 si buah hatiku CINTA harus tergeletak sakit, badannya panas + batuk dahak! rewel ga bisa tidur,, akhirnya kami begadang sampe pagi..untungnya pas pagi Cinta baru bisa tidur nyenyak..

Kasian-kasian,,sampe sekarang panas + batuknya belum sembuh..kayaknya mau tumbuh gigi belakang jadi we demam!! kalau batuk kyaknya pas hari kamis sepulang dari Jatinangor pas nyampe Cilegon langsung makan Brounis Amanda banyak jadi we oho,,oho,,:(. tapi ga tau juga si penyebab batuknya,,,apa dari makanan itu atau emang kuduna sakit..!! 
Semoga cepat sembuh aja yan nak,,,,,biar bisa maen sama abi-umi,,biar bisa shoping baju lebaran...hahaah ( karunya si umi dah gatel...:).

terakhir selamat buat sang juara world cup si akang pangser jerman,,semoga indonesia bisa mengikuti jejak mu!!! amiin,,,,







Senin, 14 Juli 2014

ISIS = Al Qaedah ? ( Teroris ya???)


Apa sih sebenarnya Islamic State in Iraq and Syria (dan sebelumnya Al-Qaedah)?

Ni Jawabannya singkat nya : ISIS atau kerap disingkat Daesh ( al-Dawlah al-Islāmīyah fī al- Irāq wa-al Shām ) di media- media Timur Tengah adalah a-l-a-t. Ya, alat. Ada sejumlah bos besar yang piawai memanfaatkan alat ini. Udang di balik batu-nya sudah tidak lagi bersembunyi, melainkan sudah cetho welo welo . Inisialnya tak lain dan tak bukan adalah AS: Arab Saudi, eh salah, Amerika Serikat.
Mari kita telusuri argumen yang mendukung pendapat di atas.
Dulu AS (dan tentunya juga Arab Saudi) punya musuh besar bernama komunisme. Permusuhan AS atas komunisme sebetulnya berpusat pada faktor geopolitik di wilayah Timur Tengah dan Samudra Pasifik. Di Timur Tengah, pengaruh komunisme saat itu memang tidak bisa diremehkan. Negara Arab terbesar dan paling berpengaruh, Mesir, pun teribas paham ini. Suriah, sebagai jantung budaya Arab, juga cenderung ke kiri. Demikian pula Irak yang— bersama dengan Suriah — menganut politik Baath yang merupakan terjemahan lokal Arab atas naskah komunisme Rusia.

Pada saat yang sama, Rusia (Uni Soviet kala itu) terlalu berambisi memperluas wilayah dominasinya. Tapi di sinilah Rusia terjebak dan masuk dalam perangkap. AS bergerak cepat mengurung Rusia di Afghanistan dengan senjata NATO, intelijen Pakistan dan intelijen negara- negara Muslim lain termasuk Indonesia – serta dana petrodolar yang tak terbatas. Sejak saat itu, Arab Saudi membangun jaringan industri fatwa jihad di dunia Islam. Jaringan industri fatwa inilah yang saat ini menjadi bantuan terbesar Arab Saudi atas AS, sekaligus juga merupakan kekuatan terbesar Arab Saudi sendiri.

Nah, jangan heran jika tiba- tiba saja ada semacam konsensus—yang entah datang dari mana—yang menyatakan bahwa berjihad di negara orang lain itu lebih penting ketimbang mengurus diri, keluarga, bangsa dan kampung sendiri. Kalangan pegiat jihad lintas jagat ini akhirnya—suka atau tidak suka—mirip seperti organisasi militer multinasional yang tiap saat siap diparasutkan kemana saja asal ada fatwa dan dana yang membentengi. Dari sinilah kemudian berkembang Al-Qaedah yang merupakan singkatan dari qaedat al-jihad —yang secara harfiah bermakna ‘basis jihad’.

Nah, sampai di sini, menjadi sedikit lebih terang, bukan? Kembali ke Afghanistan. Dulu, sebagian mujahidin penduduk asli Afghanistan sesungguhnya memang para pejuang kemerdekaan. Seperti para pahlawan kemerdekaan Indonesia, misalnya, mereka bertujuan mulia memerdekakan negeri dari penjajahan, memikul tanggungjawab mulia sebagai anak bangsa yang siap berkorban demi harkat dan martabat bangsa. Tapi ini baru separuh cerita. Separuh lainnya berkenaan dengan seabrek orang asing dari berbagai belahan dunia yang datang untuk berlatih militer dan membangun utopia tata dunia baru yang berlabel Islam. Sebagian dari puluhan ribu mujahidin asing itu, termasuk beribu-ribu orang dari Indonesia, lantas kembali ke kampung halaman masing- masing dengan cita-cita yang sama: mendirikan suatu pemerintahan Islam internasional yang tanpa batas.

Jika kita amati secara dangkal, mungkin sebagian kita mengira bahwa ribuan eks kombatan itu telah
menyebar liar tanpa komando yang jelas. Tapi, pada hakikatnya, jika kita mau geledah lebih teliti, maka kita akan menyaksikan bahwa mereka tidak pernah bergerak liar. Mereka tidak pernah bergerak spontan, tanpa setting politik yang memotivasinya. Ada industri fatwa dan jaringan ulama yang berada di baliknya yang sebenarnya mengendalikan ribuan kombatan itu. Dan kita tak pernah tahu— atau kita bisa benar-benar tahu—bahwa ada kekuatan dana dan intelijen yang canggih yang mengelola industri ini untuk sewaktu-waktu dipakai melakukan tugas-tugas “jihad” secara spesifik.

Mari kita ambil dua contoh paling gres di Suriah dan Irak. Siapa yang menggerakan ribuan “mujahilin” untuk datang ke bumi Syam, dalam dalam gerombolan brutal ISIS dan Jabhat An-Nusra, dan menyalakan api jihad melawan Bashar Assad? Coba bertanya ke diri sendiri: kenapa tak ada dari mereka yang bergerak beberapa kilometer melintasi perbatasan Israel untuk membebaskan Palestina yang terjajah? Mengapa harus Assad dan bukan yang lain- lain, yang juga mewarisi kekuasaan dari ayah-ayahnya seperti Raja Abdullah Jordan, Raja Saudi, Qatar, Kuwait? Siapa yang mondar-mandir ke berbagai ibukota dunia dan menggelar puluhan konferensi pers untuk menyatakan motif politik di balik aksi-aksi kekerasan kaum mujahilin ini?
Jangan ragu lagi: John Kerry dan sebelumnya Hillary Clinton. Ya, ternyata AS dan Saudi Arabia yang secara gigih menyampaikan agenda politik kaum mujahilin ini. Untuk kasus Suriah, mewakili kepentingan kaum mujahilin, AS dan Saudi Arabi meminta Bashar menyingkir dari kekuasaan. Untuk kasus Irak, yang ironisnya juga disampaikan oleh John Kerry beberapa hari setelah Mosul jatuh ke tangan ISIS, Maliki harus membangun pemerintahan koalisi. Sekarang, aliansi yang tidak lagi terselubung antara AS- ISIS inilah yang menjelaskan mengapa media arus utama seperti Kompas, Media Indonesia, MetroTV, TVOne, dan sebagainya bisa berbicara persis seperti yang dikatakan oleh kaum takfiri ISIS. Media arus utama di Indonesia ini, seperti juga di AS dan Barat lainnya, hanya membaca naskah berita yang sama— yang terkadang sama sekali tidak berhubungan dengan fakta yang terjadi; bahwa ISIS di Suriah adalah militan Sunni yang bergerak melawan rezim Syiah Assad, sebagaimana ISIS di Irak adalah juga militan Sunni yang bergerak melawan rezim Syiah Maliki. 

Ironis. ISIS (dan sebelumnya Al-Qaeda) sebenarnya bukan organisasi yang bergerak sendiri, apalagi bergerak spontan dan liar. Ia merupakan senjata pembunuh massal dari sistem yang lebih besar, yang lebih canggih dan yang lebih luas. Sistem inilah yang menyediakan fatwa atau dalil agama, dana, motif politik, sosial, logistik, informasi, intelijen, liputan media dan sebagainya. Puncaknya, jaringan itu pula yang memanfaatkan aksi-aksi brutal mereka, termasuk aksi bunuh diri mereka yang sangat mengerikan. 

Tanpa memahami konteks hubungan ISIS-AS ini kita tak mungkin dapat bisa memahami peta politik di Timur Tengah. Mengapa ada dukungan dana dan media yang begitu besar bagi kaum mujahilin, yang dianggap sebagai teroris oleh hampir seluruh negara di dunia untuk menggulingkan Assad, namun hampir tidak ada kasus serupa di negara-negara dalam orbit AS? Mengapa ada penekanan bertubi-tubi di luar kebiasaan tentang adanya konflik sektarian di Suriah dan Irak, dan nyaris tidak kita temukan diksi dan penekanan serupa di negara-negara yang hancur lebur akibat ulah mujahilin takfiri berideologi serupa seperti di Afghanistan, Pakistan, Somalia, Chechnya (beberapa tahun silam), dan sebagainya? 

Dan terakhir, mengapa para menlu AS, Barat dan negara-negara Teluk selalu terdepan menyampaikan motif, agenda, kepentingan dan tuntutan politik (yang dikemas dalam bahasa solusi) kaum mujahilin takfiri? Sekali lagi, bukanlah kebetulan apabila Menlu AS dan Inggris sama-sama berkunjung ke Irak persis beberapa hari pasca jatuhnya Mosul ke tangan ISIS untuk menekan Maliki merajut pemerintahan koalisi. Ini adalah koordinasi antara operator di lapangan dan politisi yang menyampaikan tuntutan. Adegan serupa sebenarnya dapat dengan mudah kita lihat tiruannya di Indonesia saat ada demonstrasi di sebuah lokasi, kemudian perwakilan dari para pendemo masuk gedung DPR untuk menyampaikan tuntutan.

Masalahnya, mengapa para menteri luar negeri seperti sudah kehilangan rasa malu memperlihatkan koordinasi mereka dengan kelompok yang mereka labeli sendiri sebagai teroris? Jawabannya juga jelas: mereka sudah sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa dengan tangan mereka sendiri dalam menghadapi kekuatan Poros Perlawanan atas hegemoni di Timur Tengah. Media arus utama seperti Kompas (yang by the way punya konglomerasi Katholik), TVOne (sebagian sahamnya sudah dibeli Qatar) dan MetroTV (yang banyak ambil modal dari AS) yang biasa makan sampah dari kantor-kantor berita Barat tentu hanya bisa memberitakan naskah yang sudah tertulis. Dan ketika ada yang menyatakan sebaliknya, maka media arus utama itu tidak akan pernah mempedulikannya lagi.

Sayangnya, untuk semua rekayasa palsu ini, lagi-lagi umat Muhammad yang jadi korbannya. Bukan seratus dua ratus orang, tapi ratusan ribu, dan untuk waktu yang belum jelas akhirnya. [Islam Times]